Rabu, 18 September 2013

Suatu Malam di Apartemen 3

Pukul 23.35 waktu Timor-Leste. Kami masih bertahan duduk di ruang makan dan sebagian di sofa depan TV. Banyak pembicaraan terjadi di sini. Hari ini, seminggu dan bahkan dua bulan yang lalu saat pertama kali kami tiba.

Terakhir sebelum aku menuliskan kisah ini, pembicaraan bergulir seputar bagaimana cara menyiapkan investasi yang tepat untuk hari tua. Walau pun awalnya kami berniat mendiskusikan mengenai lika-liku membentuk rumah tangga yang baik. Yah walaupun kata 'baik' itu sangat relatif implementasinya.

Diskusi mengenai investasi kali ini mendatangkan narasumber dari kalangan kami sendiri. Sebut saja namanya FC. Latar belakang kuliah di jurusan hukum dan pengalamannya malang melintang dalam membaca klausul-klausul kontrak membuat kami yakin dia bisa dianggap sebagai narasumber yang dapat diandalkan. Mari simak pembicaraan berikut,

Aku : cyin, gue invest di perusahaan asuransi A, yang katanya kalau sudah 5 tahun dia sudah balik modal investasinya maka bisa kita ambil dana kita cyin.... tapi kita tetep bisa dapat manfaat investasinya cyin

FC : (dengan wajah serius dan suara tegas setengah berteriak) jangan cyinn! kalau baru 5 tahun belum stabil investasinya, mending lo tunggu sampai 10 tahun...dia baru stabil cyinn

Aku : lha padahal gue mau ambil terus gue invest ke yang lain cyinn, soalnya kan sayang karena asuransi yang entu udah kagak bisa di-top-up preminya

FC : ya mending lo buka lagi aja cyin asuransi yang baru... (kemudian dia menceritakan kisahnya berinvestasi di perusahaan asuransi yang lain) kalau lo mau, gue ada ni nomor kontak mbak2 yang baik banget mau ngurus tu asuransi cyinn, jangan lupa entar lo kecilin aja yang asuransi jiwanya cyin soalnya kalau buat cewe kecil untungnya cyinn

Aku dan teman-teman yang lain : yaudah cyin, kita minta aja kontaknya dan mau bikin asuransi yang persis sama kayak lo.... --> cerminan orang yang gak mau susah-susah mikir soal lika-liku asuransi

Yaa, begitulah... sebenarnya pembicaraan mengenai investasi tersebut terjadi secara panjang lebar. Ibarat kuliah, mungkin sudah lebih dari 3 SKS kadarnya. Memang benar ungkapan: "orang pintar belajar dari pengalamannya sendiri, sementara orang bijak belajar dari pengalaman orang lain". Sehingga, berhubung kami orang pintar dan bijak (narsis mode on) maka kami belajar dari pengalaman kami dan pengalaman orang lain, hehehe.

Saat ini waktu menunjukkan pukul 12 malam waktu Timor-Leste. Sudah larut dan saatnya beranjak istirahat. Setidaknya masih ada 9 malam lagi untuk berbagi sebelum kami kembali ke habitat masing-masing. Masih ada 9 malam lagi untuk belajar dari pengalaman satu orang dan orang lain kemudian membicarakannya di salah satu sudut apartemen 3 Santos Living ini. Masih ada sekian ratus jam lagi yang dapat kami habiskan bersama....

Walau.... dari awal kami pun sudah sangat tahu bahwa kami akan sangat merindukan saat-saat ini suatu hari nanti.

Kamis, 18 Juli 2013

Pesanan Khusus

Menulis adalah salah satu passion-nya. Begitu didaulat untuk bertugas di Timor-Leste, dia langsung bertekad menuliskan segala cerita dan berita yang ditemuinya. Kalau perlu setiap hari dia akan membuat jurnal sebagai tantangannya dalam menulis.

Hari pertama duduk di kantornya yang baru, dia sudah memutar otak, kira-kira apa yang bagus untuk ditulis. Atasannya pun masih hometrip ke kampung halaman, sehingga tidak ada yang bisa ngasih inspirasi (maksudnya nyuruh-nyuruh bikin apaa kek). Iseng-iseng dia menulis kembali profil perusahaan, menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Sehari kemudian dia menulis tentang acara seminar perdagangan internasional dan menyusul artikel-artikel lain di hari-hari berikutnya. Artikel-artikel tersebut dikirimnya ke berbagai media, lantas disusunnya daftar artikel yang sudah diterbitkan sebagai laporan ke atasan.

Rupanya kegemarannya menulis menimbulkan dampak yang cukup fantastis. Nama perusahaan terekspose terutama di kalangan internal Group. Nama sang CEO pun ikut terbawa naik daun tentu saja. Alhasil, sang bapak CEO merasa bahagia karena program-program perusahaan jadi diketahui khalayak banyak.

Sang CEO, Dedi Suherman
Berkatalah CEO suatu kali di forum rapat direksi "bila ada program atau kejadian menarik, silakan diinformasikan, sebab sekarang kita punya penulis berita".

Tempo hari, perusahaan mengadakan peresmian kantor baru yang mana sang CEO sangat bangga terhadap desain ruangan tersebut. Peresmian dihadiri juga oleh jajaran pemegang saham. Tak lama setelah itu, pada perjumpaan yang tidak terlalu disengaja terjadi di ruang makan kantor sang CEO melontarkan pesanan khususnya "tolong kamu bikin tulisan, yang menggambarkan bahwa kita telah mendesain ruang kerja yang mirip sama ruangannya Google".

Dia tercenung mendengar pesanan spesial barusan. Astaga, sang CEO memesan sebuah artikel. Oke...memang ini tampak berlebihan, namun pesanan itu agaknya sangat berkesan bagi dia, si penggemar tulis menulis.



Selasa, 16 Juli 2013

Ketika Pak Bos Tak Kebagian Piring

Tumpeng Peresmian Ruang Telkomcel
Seperti biasa, pagi ini berat sekali baginya membuka mata. Larut malam dia baru bisa tidur. Mungkin sebenarnya dia belum sukses beradaptasi dengan perbedaan waktu di negara ini. Tapi, hanya dengan mengingat tugasnya yang cukup menumpuk ditambah rencana acara malam nanti, cukup memaksanya menyeret kaki ke kamar mandi.

Kali ini dia sengaja memakai pakaian terbaiknya untuk menyambut datangnya bos besar dari Indonesia. Sebagian teman kantornya pun sadar bahwa penampilannya itu sedikit berbeda dari biasanya. Kasak-kusuk mereka membicarakannya. "Ciyehh ada yang sudah jadi Sekretaris Direksi sejati ni kayaknya". Dengan bibir ditarik sinis, dia pergi meninggalkan teman-teman menuju ruang kerjanya.

Hmmm sinis? Yaa memang itu barangkali ekspresi yang ingin dia tunjukkan. Bagaimana tidak? Hari ini bos besar datang untuk meresmikan ruang kerja baru yang akan ditempati mayoritas teman-temannya. Ruangan itu besar, terang, segar dan menarik. Bak anak-anak taman kanak-kanak, teman-temannya langsung berebut tatkala ditawari memakai loker baru di sudut ruangan. Apalagi mengetahui bahwa ruangan itu dilengkapi dengan ruang rekreasi plus meja bilyard.

Bersungut-sungut dia memeriksa tiap detil ruangan tersebut. Tapi dia mencoba untuk menerima semuanya.

'Hah, menerima apanya?? ayolah....ini hanya ruangan kerja yang akan ditempati tidak genap tiga bulan...buat apa iri'?!. Dia menggerutu dalam hati sembari menatap meja kerja yang sudah disiapkan baginya persis di sebelah pintu ruang kerja CEO. Sementara itu, teman-temannya berlalu lalang, sibuk memindahkan barang dari lantai 4 ke ruangan baru di lantai 3. 'Baiklah, lagipula ini Bulan Puasa....', dia menghela nafas dan sejurus kemudian menenggelamkan diri kembali pada pekerjaanya yang belum selesai.

Semenjak diminta bergabung di Tim Corporate Secretary, pekerjaannya tidak pernah jauh dari lingkungan top management dan sekitarnya. Bukan hal baru baginya untuk mengikuti rapat manajemen dan membuat catatan rapat. Hanya saja, kesekretariatan tidak berada pada lingkup hal-hal yang dia gemari. Tapi dia tetap berusaha melakukan yang terbaik. Termasuk menyelesaikan notulensi yang sudah dikoreksi oleh CEO di tengah-tengah heboh kepindahan karyawan ke ruangan baru.

Waktu sudah menunjukan pukul 16.45 waktu Timor-Leste, 15 menit lagi acara peresmian yang ditunggu-tunggu dijadwalkan akan dimulai. Sedangkan dia masih berkutat dengan pekerjaan tambahan dari sang atasan untuk merapikan materi rapat gabungan minggu ini dengan induk perusahaan. Demi melihat bawahannya berprofesi sebagai MC tembak untuk acara sore itu, sang atasan kemudian menawarkan untuk mengambil alih pekerjaan tersebut dan mengizinkannya untuk turun ke lantai 3.

Kendati dia sudah siap, rapi jali dan dengan penuh perjuangan mendapatkan izin atasannya; rupanya acara belum dimulai. Direksi dan Bos Besar pemegang saham masih asik masyuk berdiskusi di dalam ruang CEO. Demikianlah, acara mundur dan terpaksa diisi dengan cerama agama terlebih dahulu.

Menjelang buka puasa acara inti baru dimulai. Dia memandu acara sesuai pesanan panitia, berbekal deret per deret rangkaian kegiatan yang telah tersusun baik di smartphone-nya. Peserta yang tadinya hanya jama'ah ceramah Agama Islam, kian bertambah dengan bergabungnya seluruh karyawan, berjubel memadati ruang rekreasi. Mereka mengikuti acara dengan baik, hingga tiba waktu peresmian dengan potong tumpeng dan dilanjutkan makan bersama.

Ruangan Baru :D
Beberapa orang karyawan yang beragama Islam memutuskan untuk solat Maghrib terlebih dahulu setelah menikmati hidangan ta'jil. Begitu pula para Pak Bos alias direksi. Usai solat, mereka lantas menuju meja hidangan.

Tak dinyana, hidangan sudah banyak yang ludes, bahkan hanya tersisa potongan tumpeng dan lauknya. Makin naas, piring yang disediakan sudah habis terpakai. Jadilah Pak Bos hanya bisa menatap nanar ke arah meja hidangan. Lapar yang sudah tak tertahankan mendorong mereka kembali menyantap kolak pisang untuk kedua bahkan ketiga kali. Kasihan betul Pak Bos ini.

Walaupun beberapa saat kemudian panitia segera menyediakan piring kosong buat Pak Bos, tapi tetap saja moment tersebut adalah moment yang membuat terenyuh. Bagaimana seorang atasan kehabisan piring dan jatah makan. Lucu juga.

Dia yang sedari tadi memperhatikan kejadian itu bersama seorang temannya di pojok ruangan seketika menyadari bahwa hari itu mungkin bukan hanya dirinya yang gondok karena teman-temannya pindah ke ruangan baru. Pak Bos yang kehabisan jatah makan sementara anak buahnya dengan cueknya makan disekelilingnya, bisa jadi lebih gondok dari pada dirinya.

Ahhh atau itu hanya asumsinya semata...bisiknya dalam hati sambil beranjak pergi, kembali ke ruangan 'jadul'nya

Jumat, 05 Juli 2013

GTP Timor Leste Batch 8, Saatnya Perempuan Unjuk Gigi



Dili, 5 Juli 2013 - Tim International Expansion (InEx) Global Talent Program (GTP) Timor Leste (Timles) Batch 8 telah menginjakkan kaki di Bumi Timor Lorosae pada awal Juli 2013. Istimewanya, untuk pertama kali Telkom Group mengirimkan karyawati dalam jumlah yang cukup signifikan. Dari 17 anggota, tercatat 8 diantaranya adalah perempuan. Berbeda dengan tim-tim sebelumnya dimana anggotanya hampir seluruhnya adalah laki-laki. Manajemen Telkom sendiri mulai mengirimkan satu orang karyawati yang berasal dari Telkomsel dan tergabung dalam Batch 7.

Selain itu GTP Timor Leste Batch 8 berasal dari berbagai latar belakang kompetensi dan lokasi kerja antara lain dari HCC, Telkom CorpU, marketing, customer care, public relations, Divisi Wireless Broadband, PT. Telkom Akses, Supply Center dan Divisi Enterprise Service. Penugasan para anggota GTP Timor Leste Batch 8 pun disesuaikan dengan kompetensi mereka, antara lain di bagian Sales and Marketing, HR, Corporate Account Management, procurement, corporate secretary dan network operation and maintenance.


Saling Peduli untuk Wujudkan Masterpiece Telkomcel

“Untuk seluruh tim, baik itu GTP maupun karyawan Telkomcel dalam bekerja disini kuncinya hanya satu, yaitu saling peduli”, demikian diungkapkan Chief Marketing Officer Telkomcel Efrizal Fikri di Kantor Telkomcel, Timor Plaza, Dili (5/7).

“Telkomcel telah mendeklarasikan masterpiece pada Rapim Bulan Juli 2013 bahwa kita harus mencapai 75.000 customer tanggal 17 Agustus 2013. Untuk mewujudkan masterpiece tersebut kita menghadapi tantangan yang cukup berat yaitu ekosistem yang belum terbentuk secara utuh, masyarakat yang belum teredukasi dan interkoneksi kita yang tertunda. Tapi kita harus yakin bahwa masterpiece kita akan tetap tercapai”, tambah Efrizal Fikri.

“Maka dari itu sangat dibutuhkan inisiatif untuk berkreasi bagaimana untuk meraih masterpiece tersebut dan sikap saling peduli terhadap apa yang dibutuhkan oleh tim, jangan hanya menunggu”, tegasnya.

Sesuai dengan pernyataan CMO Telkomcel tersebut, GTP Timles Batch 8 yang baru bertugas beberapa hari langsung menyesuaikan diri dan membantu menyusun serta menyelesaikan berbagai pekerjaan dan target. Target tersebut yaitu penataan sistem procurement Telkomcel, tender ICT Kementrian Kominfo Timor Leste, kerja sama dengan Bank Mandiri, target sales, target interkoneksi dengan operator incumbent, penataan sistem HR, menyusun Corporate Identity dan internal communication process serta banyak lagi penugasan lainnya.

GTP Timles Batch 8 direncanakan bertugas terhitung mulai 1 Juli hingga 3 September 2013 melewati masa puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri bagi yang beragama Islam. Disamping GTP Timles Batch 8, GTP Timles Batch 7 dan 6 dimana total terdiri dari 17 orang karyawan-karyawati Telkom Group juga masih dalam proses penugasan. Para GTP tersebut bekerja bersama 78 orang karyawan Telkomcel lainnya dimana 30 diantaranya merupakan penduduk lokal Timor-Leste.
 
Saat ini Telkomcel telah meraih lebih dari 60.000 pelanggan ritel dan lebih dari 30 pelanggan korporat. Jaringan 2G dan 3G Telkomcel telah melingkupi 11 Distrik dari 13 Distrik Timor-Leste. Jumlah tersebut ditargetkan akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat Timor-Leste baik warga lokal maupun ekspatriat terutama terhadap akses jaringan pita lebar. Telkomcel pun dalam waktu dekat berencana membuka 5 Plasa Telkomcel di 5 Distrik lain di luar Dili.

Minggu, 08 Maret 2009

Tiba-Tiba Banyak Acara Musik

Kurang lebih dua tahun yang lalu, penonton susah menemukan tayangan berbau musik di televisi, kecuali Global TV yang setia berkolaborasi dengan MTV menayangkan MTV Ampuh dan sebagainya. Padahal bila diadakan kilas balik, penonton pasti masih ingat dengan Clear Top Ten dan Delta. Meski sama-sama ditayangkan oleh RCTI, dua acara itu lumayan membawa angin segar variasi acara televisi, terutama bagi penikmat musik. Ada juga ANTV, kalau tidak salah, yang waktu itu berkolaborasi dengan Channel V menayangkan video tanpa presenter yang menyertai. Pengetahuan penonton akan musik dalam maupun luar negri dijamin update.

Di tengah-tengah keterbatasan acara musik di televisi, SCTV muncul dengan Inbox berdurasi sekitar satu jam. Sayangnya entah mengapa Inbox hanya menyajikan musik dalam negeri. Kendati demikian, cukuplah, aku yg waktu itu sedang mengerjakan skripsi dan dijelang saat-saat menganggur, terhibur dengan Inbox. Ada sih tambahan acara musik, tapi tidak rutin misalnya Karnaval SCTV dan TOP HITS RCTI. Tapi gak begitu suka acara yg live begitu.

Tapi tak mau kalah dengan SCTV, tau-tau RCTI melempar Dahsyat dengan konsep yang bagus. Aku pikir dana yang dibutuhkan untuk menyewa lokasi dan membuat panggung outdoor seperti di Inbox bisa dihemat oleh Tim Dahsyat dan dialokasikan untuk membayar presenter sekelas Luna Maya, Olga dan Raffi yang lagi naik daun. Terbukti mereka bertiga akhirnya yang mendongkrak rating acara tsb. Gaya mereka kocak, interaktif dan kompak membuat penonton begitu terhibur. Selain itu, bintang tamu yg dihadirkan beragam setiap harinya jarang sekali sama.

Inbox yang lebih dulu ada malah monoton menghadirkan The Sisters, Ardina Rasty dan The Aldys, sampai aku bosan dibuatnya. Dahsyat dengan durasinya yang lebih panjang berhasil menghadirkan lebih banyak video musik.

Tayangan musik lainnya bermuculan, sebut saja Kiss Vaganza dari Indosiar, On The Spot dari Trans 7 dan Derings dari Trans TV. Hohoho, tampaknya musik kini jadi dagangan yang laris manis kembali, karena band-band lebih cepat bermunculan daripada dekade sebelumnya.

Bagus, bagus, hidup jadi lebih berwarna dengan banyak acara musik. Tapi aku masih menunggu stasiun TV yang berani membeli musik-musik dari luar negeri dan membuat pengetahuan musik luar penonton televisi juga ter-upgrade.

Teman Tapi Jangan Ngarep

Ada artikel di CHIC judulnya Teman Tapi Ngarep. Sangat menggugah. Sesuai tapi gak begitu sesuai juga sih sama diriku.

Jadi ya saudara-saudara. Kata orang, aku ini teman yang baik, mau mendengarkan, gak banyak penilaian, gak banyak protes, gak milih-milih, gampang diajak hang-out dan segudang pujian lainnya daro orang-orang yang jadi temanku. Tapi aku punya kelemahan yang membuatku tidak nyaman bila berteman dengan : lawan jenis!

Aku gampang jatuh cinta.

Begitu gampangnya. Iya gampang banget. Temenan sama cowo A, lama-lama aku suka sama dia. Diajak jalan cowo B, aku juga suka sama dia. Ada cowo C yang temenan sama aku, aku jadi suka. Ada yang D datang, aku suka lagi. Oh My GOD! payah, betul-betul payah!

Masalahnya mereka yang 'ngakunya' atau 'kayaknya' atau 'menurutku' hanya temenan sama aku itu, semuanya deket sama aku, memperlakukan aku 'lebih' dari temen yang lain (atau aku cuman ge-er ya?). Makanya aku suka mereka.

Di CHIC ada saran, "kalau kamu suka ya nyatain aja, daripada dipendem". Bagiku saran tersebut sepertinya kurang tepat. Sungguh aku merasa bukan teman yang baik. Aku memendam harapan lebih daripada yang semestinya menjadi hakku. Maafkan aku teman.

Tapi tenang aja, semudah aku jatuh cinta, semudah aku melupakan. Bila mereka pergi, atau cintaku tak terbalas, aku baik-baik saja, optimis pasti ada seorang yang bahkan bisa jadi soulmate-ku kelak.

Di akhir artikel, ada 5 tipe cowo yang biasanya 'bikin kita ngarep', dan pada tipe terakhir lah aku seringkali jatuh cinta : Cowo techno freak (tempat aku bertanya saat aku tidak mengerti teknologi). Gyagyagya....

Kisah sebuah nama

Nama, satu hal yang susah untuk kuingat. Kenalan sama orang, tidak sampai beberapa detik kemudian sudah lupa lagi namanya. Parahnya yang aku ajak kenalan itu malah justru ingat namaku. Yang namanya artis, kalau tidak ku idolakan, aku tidak akan hafal namanya. Makanya aku suka heran sama orang-orang yang hafal hampir segala jenis artis, terlebih aktris atau aktor Hollywood. Teman-teman sekolah banyak yang kenal aku dan tahu namaku, tapi payahnya ketika diajak ngobrol aku lupa siapa namanya.

Suatu ketika ada juga yang nostalgia karena ternyata satu almamater SMA denganku, eh aku ditanya siapa nama wali kelasku, aku lupa. Siapa guru Fisika, Bahasa Inggris dan guru olahraga, lupaaa semua.

Kata orang, otak manusia sebenarnya kapasitasnya begitu besar, tapi mengapa untuk mengingat sebuah nama saja susahnya minta ampun. Maafkan aku.